KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETILASETAT

Saturday, March 17th 2012. | LP Kimia Fisika

KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETILASETAT

2.1.    Tujuan Percobaan

  1. Untuk memberikan gambaran bahwa reaksi penyabunan etilasetat oleh ion hidroksi adalah reaksi orde dua.

2. Menentukan konstanta kecepatan reaksi pada reaksi tersebut.

2.2.   Tinjauan Pustaka

Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu Kimia Fisika yang mempelajari tentang kecepatan reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-reaksi yang bersangkutan. Tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara kinetik. Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion atau pembakaran dan reaksi-reaksi yang sangat lambat seperti pengkaratan, tidak dapat dipelajari secara kinetik. Diantara kedua jenis ini, banyak reaksi-reaksi yang kecepatannya dapat diukur.

Ditinjau dari fase zat yang bereaksi, dikenal dua macam reaksi, yaitu :

  1. Reaksi homogen, yaitu reaksi dimana tidak terjadi perubahan fase.
    1. Reaksi heterogen, yaitu reaksi dimana terjadi perubahan fase.

 

 

Kecepatan reaksi adalah kecepatan perubahan konsentrasi terhadap waktu, jadi tanda negatif menunjukkan bahwa konsentrasi berkurang bila waktu    bertambah.

(Sukardjo, “Kimia Fisika”, hal: 323-324)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi :

  1. Sifat dasar pereaksi

Zat-zat berbeda secara nyata dalam lajunya mereka mengalami perubahan kimia. Molekul hidrogen dan flour bereaksi secara meledak, bahkan pada temperatur kamar, dengan menghasilkan molekul hidrogen fluorida.

H2  +  F2                   2HF    (sangat cepat pada temperatur kamar)

Pada kondisi serupa, molekul hidrogen dan oksigen bereaksi begitu lambat, sehingga tak nampak sesuatu perubahan kimia :

2H2  +  O2                    2H2O  (sangat lambat pada temperatur kamar)

  1. Temperatur

Laju suatu reaksi kimia bertambah dengan naiknya temperatur. Kenaikan laju reaksi ini dapat diterangkan sebagian sebagai lebih cepatnya atom-atom bertabrakan satu sama lain.

  1. Katalis

Suatu zat yang meningkatkan kecepatan suatu reaksi kimia tanpa dirinya mengalami perubahan yang permanen. Suatu katalis diduga mempengaruhi kecepatan reaksi dengan salah satu jalan :

  1. Pembentukan senyawa antara (katalis homogen)
  2. Adsorpsi (katalis heterogen)

 

  1. Konsentrasi

Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi, atau sebagai laju bertambahnya konsentrasi suatu produk.

(Keenan, “Kimia Untuk Universitas”, hal: 518-524)

Saponifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan sabun dan gliserol, dengan menghidrolisa dengan basa, suatu lemak atau minyak.

(Keenan. “Kimia Untuk Universitas”, hal. 679)

Menurut Hukum Kegiatan Massa, kecepatan reaksi pada temperatur tetap, berbanding lurus dengan konsentrasi pengikut-pengikutnya dan masing-masing berpangkat sebanyak molekul dalam persamaan reaksi.

Orde reaksi 1 :

A                   hasil

Rate = k1.CA.

Orde reaksi 2 :

2A                 hasil

Rate = k2. C2A.

A + B                 hasil

Rate  = k2.CA.CB

Orde reaksi 3 :

A + 2B                 hasil

Rate = k3.CA.C2B.

2A + B                 hasil

Rate = k3.C2A.CB.

(Sukardjo, “Kimia Fisika”, hal: 319-320)

Untuk memberikan gambaran bahwa reaksi penyabunan etilasetat oleh ion hidroksi adalah orde dua yaitu reaksi dibawah ini :

CH3COOC2H5   +   OH-                            CH3COO-   +   C2H5OH

t = 0              a                    b                                      -                       -

x                    x                                      x                       x

t = t           (a-x)               (b-x)                                   x                       x

(Sukardjo, “Kimia Fisika”, hal. 334)

Reaksi bimolekuler tingkat dua dapat dinyatakan sebagai berikut :

A   +   B                       hasil-hasil

t = 0      a         b                           0

t = t       a – x   b – x                     x

Dimana :

a = konsentrasi awal ester (mol/L)

b = konsentrasi awal ion OH- (mol/L)

x = jumlah mol/L ester atau basa yang telah bereaksi

k2 = tetapan laju reaksi (mmol-1.menit-1)

Intregasi :

 

 (Sukardjo, “Kimia Fisika”, hal.331)

Untuk dapat menentukan apakah suatu reaksi orde dua atau bukan dapat diselidiki  seperti pada reaksi tingkat satu yaitu :

  1. Dengan memasukkan harga a, b, t dan x pada persamaan :

 

Bila harga-harga k2 tetap maka reaksi orde dua.

  1. Secara grafik

 

Bila reaksi orde dua maka grafik t terhadap log  merupakan garis lurus tangen atau slope :

 

Untuk konsentrasi sama :

 

Jadi grafik  harus lurus bila reaksi orde dua.

3.  Half  life period tidak dapat dipakai untuk menyelidiki tingkat reaksi, dimana konsentrasi A dan B berbeda, karena A dan B akan mempunyai waktu berbeda untuk bereaksinya setengah jumlah zat tersebut.

(Sukardjo, ”Kimia Fisika”, hal: 332-333)

Reaksi-reaksi orde I adalah reaksi-reaksi yang lajunya berbanding langsung dengan konsentrasi reaktan, yaitu:

yang pada integrasi memberikan

ln [C] = ln [C]0 – kt

atau                 [C] = [C]0 e-kt

atau                 k    =

[C]0 adalah konsentrasi reaktan pada t = 0. Untuk reaksi-reaksi orde I, plot  ln [C] (atau log [C]) terhadap t merupakan suatu baris lurus. Intersep memberikan konsentrasi pada t = 0 dan k dapat dihitung dari kemiripan tersebut.

Dalam reaksi orde II, laju reaksi berbanding langsung dengan kuadrat konsentrasi dari satu reaktan atau dengan hasil kali konsentrasi yang meningkat sampai pangkat satu atau dua

  1. Kasus I

2A             Produk

yang pada integrasi memberikan

dimana [A]0 adalah konsentrasi reaktan pada t=0.

 

 

  1. Kasus II

aA + bB                 Produk

dimana a ≠ b dan [A]0 ≠ [B]0, persamaan laju diferentsial adalah

dan persamaan laju yang diintegrasi adalah

Jika a = b = 1, persamaan diatas menjadi

Plot kiri dari persamaan diatas terhadap t akan merupakan garis lurus. Konstanta laju dapat dihitung dari kemiripan dan konsentrasi awal reaktan dari intersep tersebut.

(S. K. Dogra & S. Dogra. Kimia Fisika dan Soal-soal, hal : 626-629)

Sabun merupakan garam logam alkali dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang. Larutan Alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasanya digunakan pada sabun keras adalah natrium hidroksida dan alkali yang biasanya digunakan pada sabun lunak adalah kalium hidroksida.

Sabun berfungsi untuk mengemulsi kotoran – kotoran berupa minyak ataupun zat pengotor lainnya. Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan alkali membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa lemak hewani, minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut.

Pada saat ini, teknologi sabun telah berkembang pesat. Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi dapat diperoleh dengan mudah di pasar mulai dari sabun mandi, sabun cuci baik untuk pakaian maupun untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang digunakan dalam industri. Kandungan zat – zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun. Zat – zat tersebut dapat menimbulkan efek baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Oleh karena itu, konsumen perlu memperhatikan kualitas sabun dengan teliti sebelum membeli dan menggunakannya.

Pada pembuatan sabun, bahan dasar yang biasa digunakan adalah : C12-18. Jika kurang dari C12  akan menyebabkan iritasi pada kulit dan jika lebih dariC20, kurang larut (digunakan sebagai campuran).

(www.course.usu.ac.id)

2.3.    Alat dan Bahan

 

  1. Alat-alat yang digunakan :

-         buret

-         statif lengkap

-         beakerglass

-         labu ukur

-         Erlenmeyer

-         pipet volume

-         pipet tetes

-         karet penghisap

-         gelas arloji

-         corong kaca

-         botol aquadest

-         batang pengaduk

-         stopwatch

-         timbangan digital

  1. Bahan-bahan yang digunakan :

-         etilasetat (CH3COOC2H5)

-         asamoksalat (C2H2O4.2H2O)

-         natriumhidroksida (NaOH)

-         indikator phenolphtalien (C20H14O4)

-         asamklorida (HCl)

-         aquadest (H2O)

2.4.   Prosedur Percobaan

  1. Menyediakan 250 mL larutan etilasetat dengan konsentrasi 0,04 N.
  2. Menyediakan 250 mL larutan HCl dengan konsentrasi 0,04 N.
  3. Menyediakan 250 mL larutan NaOH 0,04 N dan 100 mL larutan asam oksalat 0,04 N, memipet 10 mL asamoksalat dan menambahkan 2 tetes indikator pp kemudian menitrasi dengan NaOH. Mengulangi percobaan sebanyak 3 kali.
  4. Menyiapkan 40 mL larutan NaOH 0,04 N dan 40 mL larutan etilasetat 0,04 N, masing-masing ke dalam sebuah Erlenmeter. Memasukkan 20 mL larutan HCl 0,04 N ke dalam 6 buah Erlenmeyer.
  5. Mencampurkan larutan etilasetat pada larutan NaOH dan mengocoknya dengan baik, mencatat waktu pada saat kedua larutan bercampur.
  6. Setelah 5 menit, memipet 10 mL dari campuran NaOH dan etilasetat tersebut kemudian memasukkannya ke dalam salah satu Erlenmeyer yang berisi 20 mL larutan HCl.
  7. Mengaduk dengan baik, kemudian memasukkan 2 tetes indikator pp dan menitrasinya dengan larutan NaOH 0,04 N.
    1. Melakukan  pengambilan  larutan seperti pengerjaan pada langkah ke-6 pada

menit ke 10, 15, 20, 25,dan 30.

2.5.    Data Pengamatan

Tabel 2.5.1. Data standardisasi larutan NaOH dengan larutan asamoksalat

No

Volume asamoksalat (mL)

Volume titrasi NaOH (mL)

1.

2.

3.

10

10

10

8,9

9,1

9

 

 

Tabel 2.5.2. Data volume titrasi larutan NaOH terhadap larutan HCl sisa dalam berbagai waktu

No

Waktu

Volume titrasi NaOH (mL)

1.

2.

3.

4.

5.

6.

5

10

15

20

25

30

19,2

19,9

20,3

21

22,1

22,3

 

2.6.    Persamaan Reaksi

 

 

  1. Standardisasi NaOH dengan asamoksalat

C2H2O4.2H2O    +    2NaOH                        NaC2O4    +    4H2O

(asamoksalat)          (natriumhidroksida)                (natriumoksalat)       (air)

(http//www.titration-question-please-help)

  1. Penentuan konstanta laju reaksi

CH3COOC2H5  +   2NaOH                 CH3COONa +  C2H5OH  +  NaOH sisa

            (etilasetat)       (natriumhidroksida)         (natriumasetat)         (etanol)   (natriumhidroksida)

(Hart suminar, “Suatu Kuliah Singkat Kimia Organik”, Edisi VI, hal.242)

NaOH sisa         +    2HCl                              NaCl    +   H2O +  HCl sisa

(natriumhidroksida)   (asamklorida)                      (natriumklorida)     (air)      (asamklorida)

HCl sisa     +      NaOH                             NaCl       +    H2O

(asamklorida)     (natriumhidroksida)               (natriumklorida)      (air)

(Vogel, “Analisa Organik Kualitatif”, hal: 29-30)

2.7.   Hasil Perhitungan

  1. Membuat larutan etilasetat 0,04 N sebanyak 250 mL

 

Diketahui :    = 0,894 g/mL

[CH3COOC2H5]    = 100 %

 

 

     = 10,16 N

V1      N1         =     V2     N2

V1   (10,16 N)   =   (250 mL)  (0,04 N)

V1             =      0,9842 mL

Jadi untuk membuat larutan etilasetat 0,04 N sebanyak 250 mL adalah dengan memipet 0,98 mL etilasetat 100% dan mengencerkan dengan aquadest sampai volume 250 mL.

  1. Membuat larutan HCl 0,04 N sebanyak 250 mL

Diketahui :   r HCl     = 1,19 g/mL

[HCl]         = 37 %

 

 

 

=  12,06N

V1       N1        =     V2      N2

V1   (12,06 N)   =  (250 mL)   (0,04 N)

V1             =   0,8291 mL

Jadi untuk membuat larutan HCl 0,04 N sebanyak 250 mL adalah dengan memipet 0,83 mL HCl 37% dan mengencerkan dengan aquadest sampai volume 250 mL.

  1. Pembuatan larutan NaOH 0,04 N sebanyak 250 mL

 

 

W    = 0,4 g

Jadi untuk membuat larutan NaOH 0,04 N sebanyak 250 mL adalah dengan menimbang NaOH sebanyak 0,4 g dan melarutkan dengan aquadest sampai volume 250 mL.

  1. Pembuatan larutan asamoksalat 0,04 N sebanyak 100 mL

 

 

W    = 0,252 g

Jadi untuk membuat larutan asamoksalat 0,04 N sebanyak 100 mL adalah dengan menimbang asamoksalat sebanyak 0,252 g dan melarutkan dengan aquadest sampai volume 100 mL.

  1. Standardisasi larutan NaOH dengan asamoksalat

Volume titrasi :  I   =   8,9

II  =   9,1

III =   9

 

= 9

(V  N)asamoksalat      =    (V  N)NaOH

(10)  (0,04)          =    (9)  NNaOH

NNaOH                    =     0,044 N

Jadi normalitas NaOH adalah 0,044 N.

  1. Menentukan jumlah mol HCl awal

Mmol HClawal   =   N   VHCl awal

                                   =   (0,04)   (20)

=    0,8 mmol

  1. Menentukan jumlah mmol HCl titrasi (HCl sisa)

Misal :  untuk t  =  5 menit

mmol HCl titrasi =  N  V NaOH penitrasi

=  (0,044)  (19,2)

=  0,8448 mmol

  1. Menentukan jumlah mmol HCl bereaksi

mmol HCl bereaksi  =   mmol HCl awal  –   mmol HCl sisa

mmol HCl bereaksi   =   0,8  -  0,8448

=    0,0448 mmol

mmol HCl bereaksi = mmol NaOH sisa (dari etilasetat)

Dengan cara yang sama didapat mmol NaOH seperti pada tabel berikut :

Tabel 2.7.1. Data perhitungan mmol HCl bereaksi

Waktu (menit)

HCl beraksi (mmol)

HCl sisa (mmol)

5

 0,0448

0,8448

10

0,0756

0,8756

15

0,0932

0,8932

20

0,124

0,924

25

0,1724

0,9724

30

0,1812

0,9812

 

  1. Menghitung  jumlah mmol NaOH yang bereaksi

 

(N  V)NaOH awal      =   mmol NaOH sisa   +   mmol NaOH bereaksi

(N V) awal                  =   mmol NaOH sisa    +  mmol NaOH bereaksi

Misal   :   untuk t   =   5 menit

(N   V) awal               =   mmol NaOH sisa    +  mmol NaOH bereaksi

(0,044)  (40)         =   0,0448    +  mmol NaOH bereaksi

mmol NaOH bereaksi  =   1,7152

Jadi mmol NaOH bereaksi  =   1,7152 mmol

Dengan cara yang sama diperoleh jumlah NaOH yang bereaksi :

Tabel 2.7.2. Hasil perhitungan mmol NaOH yang bereaksi

Waktu (menit)

NaOH bereaksi  (mmol)

NaOH sisa  (mmol)

5

10

15

20

25

30

1,7152

1,6844

1,6668

1,636

1,5876

1,5788

 0,0448

0,0756

0,0932

0,124

0,1724

0,1812

 

  1. Menghitung konstanta kecepatan reaksi

k =

Dimana :

a = NaOH campuran (mmol)

t = waktu (menit)

x = mmol NaOH yang bereaksi (mmol)

k = konstanta laju reaksi

 

untuk t = 5 menit :

k =

= 4,3562 mmol-1.menit-1

Dengan cara yang sama akan diperoleh harga k seperti pada tabel berikut :

Table 2.7.3. Data perhitungan konstanta laju reaksi

t (menit)

(mmol)

(mmol)

k =

5

10

15

20

25

30

22,3214

13,2275

10,7296

8,0645

5,8005

5,5188

0,5682

0,5682

0,5682

0,5682

0,5682

0,5682

4,350646

2,531863

2,032283

1,499263

1,046453

0,990113

 

harga k rata-rata =

= 2,075103 mmol-1.menit-1

 

 

 

  1. Menghitung persamaan garis linier

Tabel 2.7.4. Data perhitungan  persamaan garis linier

x (waktu)

y = (mmol)

x.y

x2

5

10

15

20

25

30

22,3214

13,2275

10,7296

8,0645

5,8005

5,5188

111,607

132,275

160,944

161,29

145,0125

165,564

25

100

225

400

625

900

∑x = 105

∑y = 65,6623

∑xy = 876,6925 ∑x2 = 2275

 

Persamaan garis linier y = a + bx

Dimana : n =6 dan ∑(x)2 =(105)2 = 11025

Rumus :

a  =

=

= 21,83963

b =

=

= -0,622623

Maka persamaan garisnya :

y = a + bx

y =  21,83963 – 0,622623x

Tabel 2.7.5. Data grafik untuk x (t) dan y (1/a-x)

(x) waktu

y =(mmol-1.menit-1)

5

10

15

20

25

30

22,3214

13,2275

10,7296

8,0645

5,8005

5,5188

 

 

 

2.8. Grafik

 

Gambar 2.8.1. Grafik hubungan antara t (menit) dengan (mmol)

2.9.       Pembahasan

 

  1. Dari grafik 2.8.1. Hubungan antara konstanta laju reaksi terhadap waktu adalah berbanding terbalik dimana semakin lama waktu pengocokan maka konstanta laju reaksi semakin kecil. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa semakin lama waktu pengocokan maka konstanta laju reaksi juga semakin besar. Hal ini disebabkan karena :

- Kekurang telitian dalam penimbangan bahan

- Pembacaan volume titrasi yang kurang akurat

- NaOH mudah menguap karena bersifat higroskopis

 

- Pengocokkan larutan yang kurang sempurna sehingga menyebabkan larutan tidak tercampur dengan baik

- HCl mudah menguap sehingga konsentrasi HCl menjadi berkurang .

B.  Dari  hasil  percobaan diperoleh harga  k sebesar – 0,6225 mmol-1.menit-1, dimana harga k hasil percobaan berbeda dengan harga k hasil perhitungan yaitu sebesar 2,0751 mmol-1.menit-1. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya sifat HCl yang mudah menguap sehingga menyebabkan konsentrasi HCl berkurang.

 

2.10.  Kesimpulan

Dari hasil percobaan diperoleh harga konstanta kecepatan reaksi sebesar        2,0751 mmol-1.menit-1.

Kata Kunci Baru

kinetika reaksi saponifikasi etil asetat,saponifikasi etil asetat,kinetika saponifikasi ester,Reaksi penyabunan,penyabunan etil asetat,saponifikasi ester,reaksi saponifikasi etil asetat,reaksi penyabunan etil asetat,reaksi penyabunan etil asetat dengan naoh,kesetimbangan larutan iodin,laporan praktikum pembuatan etil asetat,kinetika reaksi penyabunan etil asetat,laporan kinetika reaksi saponifikasi etil asetat,reaksi saponifikasi,pengujian orde reaksi penyabunan etil asetat,laporan praktikum saponifikasi,pengujian orde reaksi pada reaksi penyabunan etil asetat,tinjauan pustaka kinetika reaksi,contoh laporan kinetika reaksi,kinetika reaksi penyabunan etilasetat,laporan sintesis kloroform,reaksi saponifikasi suatu lemak,laporan praktikum penentuan tetapan laju reaksi pada orde reaksi dua,penetapan konstanta keseimbangan hidrolisa etil asetat,kinetika saponifikasi etil asetat,laporan kinetika reaksi kimia,laporan penyabunan etil asetat,laporan etil asetat,laporan kinetika saponifikasi ester,saponifikasi ester dan pembuatan sabun,tinjauan pustaka saponifikasi,prinsip saponifikasi,laporan kinetika kimia,laporan saponifikasi etil asetat,reaksi safonifikasi,safonifikasi etil asetat,saponifikasi ester adalah,artikel saponifikasi etil asetat,jurnal kinetika reaksi,kalor penguapan sebagai energi pengaktifan penguapan,kinetika reaksi saponifikasi,laporan kimia fisik kinetika saponifikasi ester,saponifikasi adalah,tinjauan pustaka reaksi saponifikasi,contoh laporan praktikum kimia laju reaksi,kalor penguapan sebagai energi pengaktifan,landasan teori pembuatan kloroform,laporan kinetika saponifikasi etil asetat,laporan praktikum kimia fisik kinetika adsorpsi,laporan praktikum kimia fisika konstanta kecepatan reaksi,penetapan kecepatan reaksi penyabunan ester dan basa,PEnyabunan ester dan basa,reaksi saponifikasi ester,kinetika ester saponifikasi,laporan lengkap kinetika reaksi,laporan pengujian orde reaksi pada reaksi penyabunan etil asetat,laporan praktikum kimia fisik penentuan tetapan laju reaksi pada orde reaksi dua,laporan praktikum kimia fisika kinetika reaksi saponifikasi etil asetat,laporan praktikum kimia organik reaksi saponifikasi,penetapan tetapan kecepatan reaksi penyabunan ester dan basa,reaksi etil asetat dengan NaOH,contoh laporan kinetika kimia,jurnal kinetika reaksi kimia,konstanta kecepatan reaksi,laporan praktikum kinetika saponifikasi etil asetat,laporan praktikum reaksi penyabunan ester,laporan reaksi saponifikasi,laporan sintesis etil asetat,laporan uji saponifikasi,penentuan kinetika ester saponifikasi dengan konduktometri,penentuan laju dan konstanta laju reaksi etil asetat,Praktikum Kinetika halogenasi aseton dengan katalisator asam,prinsip percobaan kinetika saponifikasi ester,reaksi kimia uji penyabunan,tujuan percobaan hidrolisis etil asetat,contoh laporan kimia fisika kinetika adsorpsi,contoh laporan saponifikasi,ester saponifikasi,FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAM PROSES SAPONIFIKASI,faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan,faktor yang mempengaruhi saponifikasi,faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan,hukum laju dalam pembakaran lilin,kinetika saponifikasi etilasetat,laporan kimia organik reaksi penyabunan,Laporan kinetika adsorbsi,laporan kinetika saponifikasi,laporan lengkap reaksi penyabunan,laporan penetapan konstanta keseimbangan hidrolisa etil asetat,laporan pengujian orde reaksi penyabunan etil asetat,laporan penyabunan,laporan praktikum kimia organik saponifikasi,laporan praktikum kinetika adsorbsi,laporan tentang penentuan hukum laju pada percobaan lilin,laporan tentang reaksi penyabunan,penetapan konstanta kesetimbangan,penetapan tetapan kecepatan reaksi dan penyabunan ester dan basa,pengujian orde reaksi penyabunan etilasetat,penyabunan,PRINSIP PERCOBAAN KINETIKA KIMIA

satu komentar tentang “KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETILASETAT”

Leave a Reply