LAPORAN ASIDI-ALKALIMETRI

Tuesday, January 15th 2013. | Laporan Praktikum
DASAR TEORI
Suatu metode titrimetri untuk analisis didasarkan pada suatu reaksi kimia sepersamaan umum:
      aA              tT  produk
dimana a molekul analit A, bereaksi dengan t molekul reagen T. reagen T yang disebut titran, ditambahkan sedikit demi sedikit (secara inkremental), biasanya dari dalam buret, dalam bentuk larutan yang konsentrasinya diketahui.             Untuk mengetahui penabahan titran dihentikan dapat dapat digunakan zat kimia yang disebut Indakator            yang tanggap terhadap adanya titran berlebih yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna.
Salah satu contoh metode analisis titrimetri adalah digunakan pada reaksi asam-basa. Tirasi asam basa merupakan teknik yang banyak digunakan untuk menetapkan secara tepat konsentrasinya dari suatu larutan asam atau basa. Titrasi ini pada dasarnya merupakan reaksi penetralan dan biasa juga disebut aside-alkalimetri. Jika larutan bakunya adalah asam disebut asidimetri dan jika larutan bakunya adalah basa disebut alkalimetri. Dalam titrasi asam basa, jumlah relative asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan dengan perbandingan jumlah mol asam (H+) dan jumlah mol basa (OH-) yang bereaksi:
Misalanya:
      HCl + NaOH                 NaCl + H2
Reaksi ionnya:
      H3O+ + OH-                   H2O
            Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa.
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama.Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya merupakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi merupakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kadua cara  di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik. Selama bertahun-tahun istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan tetatpi, dilihat dari segi yang kata, “titrimetrik” lebih baik, karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi.
Rekasi-reaksi kima yang dapat diterima sebagai dasar penentuan titrimetrik asam-basa adalah sebagai berikut :
  • Jika HA meruapakn asam yang akan ditentukan dan BOH sebabagi basa, maka reksinya adalah : HA + OH→A+ H2O
o    Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam, maka reaksinya adalah ; BOH + H→ B+ = H2
Perhitungan titrasi asam basa didasarkan pada reaksi pentralan, menggunakan dua macam cara, yaitu :
1.      Berdasarkan logika bahwa pada reaksi penetralan, jumlah ekivalen (grek) asam yang bereaksi sama dengan jumlah ekivalen (grek) basa.
     Diketahui : grek (garam ekivalensi) = Volume (V) x Normalitas (N),
     Maka pada titik ekivalen : V asam x N asam = V basa x N basa; atau
 V+ N1 = V+ N 2
Untuk asam berbasa satu dan basa berasam satu, normalitas sama dengan molaritas, berarti larutan 1 M = 1 N. Akan  tetapi untuk asam berbasa dua dan basa berasam dua 1 M = 1 N.
2.      Berdasarkan koifisein reaksi atau pensetaraan jumlah mol
    Misalnya untuk reaksi :
       2 NaOH + (COOH)2→(COONa) + H2O
     (COOH)2 = 2 NaOH
Jika Madalah molaritas NaOH dan Vadalah volume NaOH, sedangkan Madalah molaritas (COOH)2 dan Vadalah volume (COOH)2, maka :
               =      &   VM1 x 1 = VM 2  x 2
         Oleh sebab itu :  V Na Oh x M NaOH x 1 = V (COOH)2 x M (COOH)2s
Larutan yang mengandung reagensia dengan bobot yang diketahui dalam suatu volume tertentu dalam suatu larutan disebut larutan standar. Larutan standar terbagi atas 2 yaitu larutan standar primer dan sekunder. Larutan standar primer adalah suatu larutan yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volume tertentu, sedangkan larutan standar sekunder adalah larutan standar lain yang telah ditetapkan konsentrasinya melalui titrasi dengan menggunakan larutan standar primer.
Bahan kimia yang digunakan sebagai bahan untuk larutan standar primer harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Mudah didapat dalm keadaan murni dan mempunyai rumus molekul yang pasti
2.      Harus stabil dan mudah ditimbang
3.      Berat ekivalennya harus besar
4.      Reaksinya harus sempurna
5.      Harganya relatif murah.
            Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda (Keenan, 2002).
Fenolphtalein tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan yang tidak terionisasi indikator tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa fenolphtalein akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna terang karena anionnya (Day, 1981).
Metil jingga adalah garam Na dari suatu asam sulphonic di mana di dalam suatu larutan banyak terionisasi, dan dalam lingkungan alkali anionnya memberikan warna kuning, sedangkan dalam suasana asam metil jingga bersifat sebagai basa lemah dan mengambil ion H+, terjadi suatu perubahan struktur dan memberikan warna merah dari ion-ionnya (Day, 1981).
Suatu indicator dapat berubah warnanya pada daerah pH tertentu, misalnya:
Ø  Metal jingga                   : merah pH 3,1 – pH 4,4 kuning
Ø  Brom timol biru             : kuning pH 6,0 – pH 7,6 biru
Ø  Fenolftalein                   : bening pH 6,0 – pH 9,6 merah
PEMBAHASAN
Alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam.Proses untuk menentukan banyaknya ekivalen asam dibutuhkan untuk menetralkan sevolume larutan basa atau sebaliknya disebut titrasi. Dalam percobaan ini diperlukan larutan standar primer yaitu asam klorida (HCl), dimana larutan standar primer adalah larutan baku yang dibuat dengan menimbang zatnya lalu melarutkan sampai volume tertentu. Dalam percobaan ini akan ditentukan konsentrasi NaOH menggunakan asam klorida (HCl) sebagai larutan standar primernya.
Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :
NaOH + HCl → NaCl + H2O
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kedua cara  di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetrik. Selama bertahun-tahun istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan tetatpi, dilihat dari segi yang yang keta, “titrimetrik” lebih baik, karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi.
Buret yang telah dibersihkan, dibilas lagi dengan NaOH yang dipakai, kemudian NaOH dimasukkan kedalam buret tersebut sebanyak 50 mL. Lalu asam klorida dimasukkan kedalam erlen meyer sebanyak 25 mL dan ditetesi indiukator fenofltalein sebnyak tiga tetes, selanjutnya larutan yang terdapat pada labu erlen meyer ini dititrasi dengan NaOH hingga terjadi perubahan warna. Dalam percobaan ini penambahan indikator fenofltalein (PP) yaitu agar terjadi perubahan warna dimana kita bisa menghentikan titrasi, jika kita tidak menambahkan indikator fenofltalein (PP) ini kita tidak akan tahu kapan kita bisa menghentikan titrasi. Dari proses ini bisa ditentukan volume dan konsentrasi dari NaOH.
Rekasi-reaksi kima yang dapat diterima sebagai dasar penentuan titrimetrik asam-basa adalah sebagai berikut :
  • Jika HA meruapakn asam yang akan ditentukan dan BOH sebabagi basa, maka reksinya adalah : HA + OH→A+ H2O
  • Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam, maka reaksinya adalah ; BOH + H→ B+ = H2O
Dari kedua reaksi di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip reaksi titrasi asam basa adalah reaksi penetralan, yakni ; H+ OH -→ H2O dan terdiri dari beberapa kemungkinan yaitu reaksi-rekasi antara asam kuat dengan basa kuat, asam kuat dan basa lemah, asam lemah dan basa kuat, serta asam lemah dan basa lemah.
Khusus reaksi antara asam lemah dan basa lemah tidak dapat digunakan dalam analisis kuantitatif, karena pada titik ekivalen yang terbentuk akan terhidrolisis kembali sehingga titik akhir titrasi tidak dapat diamati. Hal ini yang menyebabkan bahwa titran biasanya merupakan larutan baku elektrolit kuat seperti NaOH dan HCl.
KESIMPULAN
Titrasi alkalimetri pada percobaan ini adalah untuk menentukan konsentrasi  NaOH (basa kuat) dengan larutan baku asam oklorida (HCl). Reaksi netralisasi dapat diamati dengan baik ketika terjadi perubahan warna yang awalnya bening  menjadi abu-abu dengan menggunakan indikator Fenoftalein (PP). Persamaan reaksinya adalah :
NaOH + HCl → NaCl + H2O
DAFTAR PUSTAKA
Lukum. Astin. 2OO9. Bahan Ajar Dasar-Dasar Kimia Analitik. Gorontalo : UNG
Team Teaching.2009. Modul praktikum Mata Kuliah Dasar-Dasar Kimia Analitik.Gorontalo : UNG.
Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

Kata Kunci Baru

laporan penentuan kadar vitamin c,laporan menentukan kadar vitamin c,jurnal penetapan rumus molekul senyawa kompleks,laporan kimia iodometri,laporan praktikum asam askorbat,laporan iodometri vitamin c,laporan praktikum penentuan kandungan tembaga secara iodometri,laporan paktikum kimia analitik penetapan kadar tembaga dengan iodometri,jurnal praktikum nalisis produk nitrasi phenol dengan klt,laporan praktikum asidi alkalimetri,laporan praktikum iodimetri dan iodometri,laporan praktikum penentuan kadar vitamin c pdf,laporab praktikum metode penetapan karakteristik fisik,laporan praktikum kecepatan reaksi antara peroksidisulfat dan iodida,contoh laporan kimia organik vitamin c,laporan titrimetri (iodometri),laporan praktikum kadar cuso4,laporan praktikum ekstraksi i2 dalam sistem air / chcl3,laporan praktikum kimia analisis asidi alkalimetri,laporan praktikum protein,pembahasan dari praktikum metode iodimetri menggunakan asam salisilat,perhitungan kadar dalam tablet dengan alkalimetri,laporan penentuan kadar asam askorbat,cara mengukur kandungan tembaga dalam tanah,praktikum iodometri dan iodimetri,laporan penentuan kadar vitamin c secara iodometri,laporan praktikum iodometri analitik,laporan pratikum penentuan kadar cuso4,laporan asidi alkali metri,laporan identifikasi vitamin,laporan praktikum asetosal dan asam askorbat,laporan praktikum biokimia vitamin C,laporan praktikum analisis titrimetri,laporan mempelajari sifat sifat proteinprotein,laporan praktikum biokimia analisis vitamin c dengan metode iodometri,pratikum biokimia tentang vitamin c pdf,laporan praktikum asidi alkalimetri dalm tablet adpirin,laporan penentuan kandungan tembaga secara iodometri,laporan penetapan kadar asam askorbat,laporan penetapan kadar asam askorbat secara iodimetri,laporan praktikum biokimia analisis vitamin,laporan praktikum kimia analisis iodometri dan iodimetri,pembahasan penetapan kadar CUSO4,pembahasan praktikum iodimetri,untuk analisa vit C apakah digunakan titrasi asidimetri atau alkalimetri,praktek asetosal tablet dengan metode alkalimetri,praktikum asidi alkalimetri,praktikum iodometri vitamin c,praktikum kadar cuso4,prinsip percobaan kenaikan titik didih,prinsip percobaan protein,prinsip praktikum iodometri dan iodimetri,reaksi percobaan penentuan rumus empiris,reaksi peroksidisulfat,titrasi asidi alkali metri,pembahasan laporan penetapan kadar vitamin c metode Oksidimetri,metode penentuan panas penguapan,laporan praktikum kimia analitik iodometri dan iodimetri,laporan praktikum kimia analitik metode netralisasi alkalimetri,laporan praktikum kimia dasar 2 tentang IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR HALONGEN BERDASARKAN PERUBAHAN WARNA,laporan praktikum kimia dasar tentang analisis kadar aspirin dan vitamin c dalam tablet,laporan praktikum kimia organik tentang asam askorbat,laporan praktikum menentukan kadar vitamin c pada tablet vitamin c metode iodimetri,laporan praktikum penentuan vitamin c metode iodometri,laporan praktikum penetapan kadar cuso4,laporan praktikum tentang penentuan kadar vitamin c,latar belakang praktikum iodometri,latar belakang untuk laporan tentang analisis kadar aspirin dan vitamin c,makalah laporan uji vitamin c,makalah penentuan kadar CUSO4,tujuan saponifikasi pada uji kadar vitamin a,dasar teori dari praktikum asam salisilat menggunakan metode iodimetri,alkalimetri,contoh laporan penentuan titik lebur,analisis kadar vitamin c metode titrimetri,kecepatan reaksi antara peroksidisulfat dengan iodida,laporan iodimetri dan idometri,jurnal asidi alkalimetri,jurnal praktikum iodometri,fungsi identifikasi,kadar tembaga dalam cuso4 dengan metode iodometri,3 tujuan pemisahan dalam pekerjaan analisis kimia,contoh dari senyawa arsenik,Modul penentuan vitamin C secara asidi alkali,metode titrasi/reaksi acidi-alkalimetri,pdf jurnal penentuan protein dengan metode iodometri,metode titrimetri asidi-alkalimetri,metode pengujian fenol dengan iodometri,contoh laporan praktikum penetapan kadar protein,makalah praktikum uji vitamin c,makalah titrasi asam basa,makalah volumetri (asidi alkalimetri),pembahasan praktikum asidi alkalimetri asam salisilat,mekanisme reaksi percobaan katalis asam,contoh laporan praktikum kimia penentuan kadar cuso4,metode penentuan rumus molekul senyawa kompleks besi ii oksalat,pdf laporan praktikum penentuan kadar vitamin c metode iodometri,pembahasan aspirin laporan,penentuan asan askorbat laporan,pembahasan praktikum titrimetri

Leave a Reply