PENENTUAN RUMUS MOLEKUL SENYAWA KOMPLEKS

Monday, May 7th 2012. | LP Kimia Anorganik

A. TUJUAN PERCOBAAN

Mempelajari pembuatan dan penentuan molekul senyawa kompleks besi (II) oksalat.

B. PENDAHULUAN

Barangkali sedikit di antara kita yang menyadari bahwa ion-ion kompleks merupakan karunia Allah yang cukup besar peranannya dalam kelangsungan metabolisme tubuh manusia. Hemoglobin dalam darah tidak lain adalah senyawa kompleks dari besi. Sintesis hemoglobin juga memerlukan ion Cu2+ yang bekerja dengan cara pembentukan kompleks. Besi adalah logam paling banyak, dan dipercaya sebagai unsur kimia ke sepuluh yang paling banyak terdapat di alam. Jumlah besi yang besar di alam diduga menyumbang kepada medan magnet bumi. Dalam industri besi dihasilkan dari bijih besi, kebanyakan hematit, melalui reduksi oleh karbon pada suhu 2000 oC. Besi yang dihasilkan dapat digunakan dalam sintesis senyawa-senyawa yang mengandung Fe. Contoh senyawa kompleks dengan atom pusat Fe adalah kompleks besi (II) oksalat. Oleh karena itu dilakukan percobaan penentuan rumus molekul senyawa kompleks yaitu besi (II) oksalat.

C. DASAR TEORI

Kimia koordinasi atau kimia kompleks adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari senyawa-senyawa koordinasi atau senyawa kompleks. Senyawa -senyawa ini molekul – molekulnya tersusun dari gabungan dua atau lebih molekul yang sudah jenuh, misalnya: BF3 + NH3 → BF3 . NH3 4 KCN + Fe(CN)2 → Fe(CN)2 . 4 KCN CoCl3 + 6 NH3 → CoCl3 . 6 NH3 PtCl2 + KCl + C2H4 → PtCl2 .KCl .C2H4 (Sukardjo, 1985).

Senyawa kompleks dapat merupakan senyawa kompleks netral seperti [Ni(CO)2] atau senyawa kompleks ionik seperti [Ag(NH3)2]Cl. Senyawa kompleks ionik terdiri atas ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Dalam senyawa kompleks ionik salah satu dari ion tersebut atau keduanya dapat merupakan ion kompeks. Senyawa kompleks ionik yang kationnya merupakan ion kompleks contohnya adalah [Ag(NH3)2]Cl, dan [Co(NH3)6](NO3)3. Senyawa kompleks ionik yang anionnya merupakan ion kompleks contohnya adalah K3[Fe(CN)6], dan K2[PtCl4]. Senyawa kompleks ionik yang kation dan anionnya merupakan ion-ion kompleks contohnya adalah [Co(NH3)6][Cr(CN)6], dan [Pt(NH3)4][PtCl4] (Effendy,2007).

Dalam pembentukan senyawa kompleks netral atau senyawa kompleks ionik, atom logam atau ion logam disebut sebagai atom pusat, sedangkan atom yang dapat mendonorkan elektronnya ke atom pusat disebut atom donor. Atom donor terdapat pada suatu ion atau molekul netral. Ion dan molekul netral yang memiliki atom-atom donor yang dikoordinasikan pada atom pusat disebut dengan ligan (Effendy,2007).

Dalam pelaksanaan analisis anorganik kualitatif banyak digunakan reaksi -reaksi yang menghasilkan pembentukan kompleks. Suatu ion (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom (ion) pusat itu. Jumlah relatif komponen – komponen ini dalam kompleks yang stabil nampak mengikuti stoikiometri yang sangat tertentu, meskipun ini tak dapat ditafsirkan di dalam konsep valensi yang klasik. Atom pusat ini ditandai oleh bilangan koordinasi, suatu angka bulat yang menunjukkan jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat. Pada kebanyakan kasus, bilangan koordinasi adalah 6 (seperti dalam kasus Fe2, Fe3+, Zn2+, Cr3+, Ni2+, Cd2+), kadang-kadang 4 (Cu2+, Cu+, Pt2+), tetapi bilangan-bilangan 2 (Ag+) dan 8 (beberapa ion dari golongan platinum) juga terdapat (Vogel, 1990). Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang tersedia sekitar atom atau ion pusat dalam apa yang disebut bulatan koordinasi, yang masing-masingnya dapat dihuni satu ligan (monodentat). Susunan logam-logam sekitar ion pusat adalah simetris. Jadi, suatu kompleks dengan satu atom pusat dengan bilangan koordinasi 6, terdiri dari ion pusat, di pusat suatu oktahedron, sedang keenam ligannya menempati ruang – ruang yang dinyatakan oleh sudut – sudut oktahedron itu. Bilangan koordinasi 4 biasanya menunjukkan suatu susunan simetris yang berbentuk tetrahedron, meskipun susunan yang datar (atau hampir datar), dimana ion pusat berada di pusat suatu bujursangkar dan keempat ion menempati keempat sudut bujursangkar itu, adalah juga umum (Vogel, 1990).

Walaupun senyawa – senyawa kompleks mempunyai bilangan koordinasi dan struktur yang berbeda – beda, tetapi bilangan koordinasi yang paling banyak dijumpai adalah empat dan enam, strukturnya planar atau tetrahedral dan octahedral. Namun demikian ternyata, bahwa struktur yang umum bagi senyawa-senyawa kompleks adalah tetrahedral (Sukardjo, 1985).

Pembentukan utama bagi pengelompokkan banyak zat sebagai senyawa koordinasi pada kimianya, yang dapat diperikan secara tepat dalam bentuk spesies kation Mn+ yang secara hakiki tetap, tempat berbagai ragam ligan L, L’, L’’, dan sebagainya, dapat diletakkan dalam sejumlah kombinasi tidak terbatas yang diperlukan. Muatan keseluruhan pada kompleks yang dihasilkan, [MLxL’yL’’z ...] ditentukan oleh muatan M, dan jumlah muatan ligannya ( Cotton & Wilkinson, 2009).

D. ALAT DAN BAHAN

1. Alat a. Pipet ukur 25 mL b. Pipet ukur 1 mL c. Ball pipet d. Gelas piala 150 mL e. Pengaduk gelas f. Pembakar spirtus g. Gelas arloji besar h. Sendok sungu i. Buret 25 mL j. Statip k. Corong gelas l. Erlenmeyer 100 mL m. Termometer n. Pinset o. Botol Akuades 2. Bahan a. Ammonium besi (II) sulfat b. Serbuk seg c. Kalium permanganat d. Asam sulfat 2 M e. Kristal asam oksalat f. Akuades

F. PEMBAHASAN

Percobaan yang berjudul Penentuan Rumus Senyawa Kompleks bertujuan untuk mempelajari cara pembuatan senyawa kompleks besi (II) oksalat serta menentukan rumus molekul senyawa kompleks besi (II) oksalat. Pembuatan kompleks besi (II) oksalat dilakukan dengan mereaksikan larutan ammonium besi (II) sulfat dengan larutan asam oksalat. Awal dari percobaan ini adalah pembuatan larutan besi (II) dan larutan asam oksalat. Larutan besi (II) dibuat dengan melarutkan padatan ammonium besi (II) sulfat ke dalam akuades. Sebelum padatan ammonium besi (II) sulfat dilarutkan ke dalam akuades, terlebih dahulu akuades diasamkan dengan asam sulfat 2 M untuk menciptakan suasana asam pada larutan tersebut. Sedangkan larutan asam oksalat dibuat dengan melarutkan kristal asam oksalat ke dalam akuades. Reaksi dari pelarutan kristal asam oksalat, adalah sebagai berikut H2C2O4(s) + H2O(l)  H2C2O4(aq) Larutan asam oksalat yang telah dibuat kemudian ditambahkan ke dalam larutan besi (II) sulfat. Setelah kedua larutan tersebut ditambahkan, larutan menjadi berwarna kuning karena terbentuknya endapan kuning yang merupakan indikasi terbentuknya kompleks dari ion-ion besi. Untuk mengendapkan endapan senyawa kompleks yang terbentuk, maka larutan dididihkan. Endapan kuning yang terbentuk disaring dengan penyaring Buchner dan dicuci dengan menggunakan air panas. Pencucian dengan air panas ini berfungsi untuk menjaga bentuk senyawa kompleks agar tetap berbentuk endapan. Selanjutnya endapan dicuci dengan aseton untuk mengikat pengotor yang ada dalam larutan dan endapan. Endapan yang terbentuk kemudian dikeringkan dan selanjutnya ditimbang. Dari percobaan ini diperoleh endapan sebanyak 1,9062 gram. Selanjutnya endapan diambil sebanyak 0,2 gram untuk penentuan komposisi. Endapan tersebut, terlebih dahulu dilarutkan dengan asam sulfat 2 M untuk menciptakan suasana asam. Penentuan komposisi dilakukan dengan titrasi permanganometri, dimana digunakan larutan standar kalium permanganat. Dalam larutan yang bersifat asam, ion permanganat direduksi menjadi ion Mn2+ : MnO4- + 8H+ + 5e-  Mn2+ + H2O Ketika larutan dititrasi, warna kalium permanganat memucat, sehingga larutan kemudian dipanaskan sampai kurang lebih 60 oC. Hal ini disebabkan karena reaksi antara oksalat dengan asam sulfat lambat pada suhu kamar, tetapi menjadi cepat pada 60 oC. Ion mangan (II) mengkatalis reaksi ini. Jadi, reaksi ini merupakan reaksi otokatalitik. Setelah larutan dipanaskan, titrasi dilanjutkan sampai titik ekivalen dimana warna larutan menjadi merah kecoklatan. Reaksi antara oksalat dengam asam sulfat menghasilkan gas karbondioksida, dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut 2MnO4- + 5(COO)22- + 16H+  10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O Pada titrasi pertama ini, kalium permanganat yang diperlukan adalah 6,7 mL. Larutan hasil titrasi ini selanjutnya dididihkan dengan serbuk seng selama 10 menit. Pada saat pemanasan larutan berubah menjadi bening atau tidak berwarna. Seng mereduksi besi (III) menjadi besi (II). Selanjutkan larutan disaring dengan glass wool, karena glass wool bersifat stabil serta tahan terhadap larutan pekat. Residu seng kemudian dicuci dengan asam sulfat 2 M. Campuran filtrat kemudian dititrasi kembali. Pada titrasi kedua menunjukkan adanya pengurangan volume kalium permanganat yang digunakan untuk titrasi, dimana volume kalium permanganat yang digunakan adalah 1,5 mL. Dari hasil yang diperoleh dapat ditentukan rumus molekul senyawa kompleks yang terbentuk. Dari hasil perhitungan didapatkan 0,75 mmol Fe, 1,3 mmol C2O42-, dan 2,4 mmol air, dengan perbandingan mmol Fe : mmol C2O42- : mmol H2O adalah 1 : 2 : 3. Dari hasil ini perbandingan ini didapatkan rumus molekul senyawa kompleks besi(II)oksalat yaitu Fe(C2O4)2.3H2O.

G. KESIMPULAN

1. Kompleks besi(II)oksalat dapat dibuat dengan mereaksikan larutan ammonium besi(II)sulfat dengan larutan asam oksalat

2. Rumus molekul senyawa kompleks yang diperoleh pada percobaan ini adalah Fe(C2O4)2.3H2O

H. DAFTAR PUSTAKA

Albert, Cotton F. dan Geoffrey Wilkinson. 2009. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-Press

Effendy. 2007. Perspektif Baru Kimia Koordinasi Jilid 1. Malang : Bayumedia Publishing

Sukardjo. 1985. Kimia Koordinasi. Jakarta: PT. Bina Aksara

Vogel.1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka

sumber

Kata Kunci Baru

yhs-0001,komposisi ion,reaksi percobaan rumus empiris,laporan penentuan rumus molekul senyawa kompleks,tinjauan pustaka rumus empiris,laporan persamaan nerst untuk menentukan esell,persamaan nernst untuk menentukan esell,laporan kimia anorganik tentang penentuan komposisi senyawa kompleks,laporan praktikum penetapan rumus molekul senyawa kompleks,tujuan penentuan rumus empiris,jurnal rumus empiris,laporan kompleks koordinasi besi,laporan praktikum model molekul,dasar teori rumus empiris senyawa,teori rumus empiris,kompleks koordinasi besi,dasar teori penentuan rumus kimia,percobaan rumus empiris senyawa,sintesis dan penentuan rumus molekul senyawa kompleks besi(II) oksalat,jurnal laporan praktikum pemodelan molekul,laporan penentuan rumus empiris,bilangan koordinasi senyawa kompleks,laporan praktikum kimia rumus empiris,laporan praktikum penentuan bilangan koordinasi ion tembaga (ii),tinjauan pustaka tentang rumus empiris,laporan praktikum rumus empiris pdf,laporan praktikum penentuan rumus empiris suatu senyawa,rumus Esell,jurnal rumus empiris pdf,laporan praktikum model-model molekul,Reaksi percobaan dari rumus empiris,makalah penentuan rumus empiris,Laporan sintesis penentuan rumus molekul senyawa kompleks besi oksalat,laporan penentuan rumus empiris besi,penentuan ion kompleks,PENENTUAN RUMUS KIMIA,laporan model molekul senyawa organik,penentuan rumus molekul senyawa komplek besi (II) oksalat,laporan praktikum anorganik rumus empiris,Pembuatan dan penentuan rumus molekul senyawa kompleks besi (II) oksalat,laporan praktikum kimia anorganik penentuan komposisi ion kompleks,laporan praktikum kimia anorganik rumus empiris,komposisi dari ion adalah,jurnal ion kompleks besi salisilat,alasan di gunakan labu tile pada percobaan titik eutektikum,sintesis dan penentuan rumus molekul senyawa kompleks besi(ll)oksalat laporan,contoh laporan penentuan bilangan koordinasi kompleks tembaga ii,daftar pustaka penentuan rumus molekul senyawa kompleks,tinjauan rumus empiris laporan kimia,rumus struktur kalium permanganat,sintesis dan penentuan rumus molekul besi (II) oksalat,rumus senyawa oksalat,penentuan acidity,penentuan komposisi ion kompleks dengan metoda job,tinjauan pustaka laporan rumus empiris,pembahasan rumus empiris laporan,pembentukan dan kestabilan senyawa kompleks,tujuan maksud percobaan penentuan rumus senyawa,pembentukan senyawa molekul,tujuan laporan penentuan rumus empiris,penentuan bilangan koordinasi kompleks amin tembaga (II),tinjauan pustaka penentuan rumus empiris suatu senyawa,penentuan bilangan koordinasi ion tembaga (iii),penentuan bilangan koordinasi ion tembaga (ii),penentuan bilangan koordinasi compleks tembaga II,tinjauan pustaka senyawa kompleks,tinjauan pustaka senyawa empiris,teori laporan praktikum senyawa komplek,pendahuluan laporan untuk mengetahui persamaan molekul persamaan ionik,pembahasan praktikum senyawa koordinasi,pembahasan praktikum rumus empiris,Makalah tentang senyawa komplek hemoglobin,makalah penetapan acidity,Tujuan praktikum penentuan rumus empiris,www fuadshifu info penentuan-komposisi-ion-kompleks,pendahuluan rumus empiris,percobaan penentuan komposisi ion kompleks,makalah lengkapsenyawa kompleks atau koordinasi,Lapran kimia sintesis senyawa koordinasi k3[Cr(C2O4)3] 3H2O,laporan tentang penetapan rumus molekul senyawa kompleks,tujuan percobaan suatu laporan penentuan rumus empiris,MODEL MOLEKUL,model molekul metil benzoat,pembahasan penentuan rumus ion kompleks besi dengan asam salisilat,Tujuan percobaan penentuan rumus empiris,pembahasan laporan rumus empiris senyawa,pembahasan laporan rumus empiris,molekul kompleks,praktikum penentuan bilangan koordinasi,tujuan percobaan penetuan rumus empiris,molekul kcl,tujuan percobaan rumus empiris,laporan tentang penentuan rumus empiris,rumus senyawa aseton,senyawa kompleks besi dan ligan ammonium pdf,rumus bilangan kordinasi,reaksi percobaan utk rumus empiris,senyawa kompleks besi II oksalat,senyawa kompleks co(nh3)6cl3,prinsip praktikum penentuan komposisi senyawa kompleks

Leave a Reply